Kesehatan Mental Anak LPKA Penting untuk Kembali ke Masyarakat

“Kesehatan adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap dan bukan hanya tidak adanya penyakit ataupun kelemahan.”

WHO, Mental Health in Emergencies, 2012

Saat seseorang memiliki kesehatan mental yang baik, maka seseorang tersebut akan mampu untuk mengatur diri sendiri. Hal itu termasuk melihat potensi diri, mengatasi tekanan keseharian, bekerja produktif, dan mampu memberi kontribusi yang baik untuk sekitarnya.

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan seorang anak memiliki kondisi yang meresahkan akibat kondisi kesehatan mental yang kurang terjaga. Kondisi tersebut bisa berbentuk emosi mudah marah, tidak semangat, hingga menghindari pergi ke sekolah. Kondisi lingkungan atau keluarga yang tidak aman, kurang komunikasi, dan ketidakpercayaan diri bisa menjadi beberapa faktor penyebab kondisi-kondisi tersebut. Anak-anak dapat melakukan tindakan kurang menyenangkan atau kasus pidana bisa terjadi bila kesehatan mental anak yang kurang terjaga diabaikan. Indonesia sendiri telah menyediakan lembaga pembinaan untuk anak-anak yang terkena pidana, yaitu LPKA.

LPKA dan Pembinaan

LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) adalah tempat Anak menjalani masa pidananya. Anak-anak yang bergabung di LPKA akan menerima pembinaan seputar pembinaan kepribadian, pembinaan keterampilan, serta pendidikan formal dan non formal. LPKA sendiri selalu memiliki program untuk pembinaan soft skill dan hard skill untuk menjaga kesehatan mental dan kepercayaan diri anak-anak di LPKA. Pembinaan yang menjadi rutinitas beragam seperti kegiatan kerohanian, pembinaan minat dan bakat, atau bahkan sekolah formal dan non-formal.

Mengapa kesehatan mental anak di LPKA perlu dibina agar dapat mudah terintegrasi kembali ke Masyarakat?

Pertama, karena dengan kondisinya yang mungkin berbeda dari teman sebayanya, maka anak-anak bisa merasakan dampak trauma yang hadir dalam berbagai emosi sebagai after effect setelah kembali ke masyarakat. Anak pun bisa kehilangan rasa percaya diri, tertekan, hingga berdampak pada masalah komunikasinya. Oleh karena itu, diberi pelatihan pendidikan hingga kepribadian di LPKA agar anak-anak dapat unjuk gigi meski setelah keluar dari LPKA nantinya.

Kedua, anak-anak dilatih mengatur emosi diri dan komunikasi dengan pembinaan emosi dan komunikasi. Harapannya masyarakat mampu menghargai perasaan mereka sehingga komunikasi lebih mudah diterima. Selain itu, komunikasi baik dapat membuat orang lain menghargai emosi mereka yang butuh penentraman hati setelah merasa tidak percaya diri karena harus menjalani hari di LPKA.

Terakhir, kesehatan mental anak yang baik ataupun buruk dapat berdampak untuk hari dewasanya nanti. Gangguan kesehatan mental bisa terjadi jika ditangani dengan buruk setelah mereka divonis. Sedangkan perasaan negatif yang sudah lama berada di alam bawah sadar anak-anak dan terus melekat akan sulit dihilangkan saat sudah dewasa. Jika sudah dewasa dan kesehatan mental masih berdampak dari permasalahan masa kecilnya, maka seseorang akan butuh pertolongan profesional untuk menghadapi kesehatan mentalnya.

Beberapa indikasi kesehatan mental yang perlu diwaspadai

Contoh gangguan kesehatan mental yang bisa terjadi adalah merasa sedih berkepanjangan, apatis, sering marah dan bingung, takut atau khawatir, dan hal lainnya. Jika permasalahan tersebut masih bersifat minor dan tidak mengganggu keseharian, maka cara untuk meminimalisirnya dengan usaha sendiri. Penanganan sendiri bisa dengan meditasi, menghabiskan waktu di alam, atau coba berkomunikasi dengan menuliskan hal-hal yang membuat cemas atau khawatir. Sedang jika perasaan negatif tersebut sudah lebih lama menguasai diri dan mengganggu keseharian, ada baiknya segera berdiskusi dengan ahli.

Kesimpulan

Teman-teman kita di LPKA harus memulai dari usia sedini mungkin untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosialnya. Lingkungan terdekat seperti sekolah dan keluarga sangat memengaruhi kesehatan mental mereka. Banyak karakter positif hadir dalam diri anak-anak yang memiliki kondisi mental yang sehat. Di masa depan, kesehatan mental sangat memengaruhi kemampuannya untuk berpikir jernih, mengendalikan emosi, dan bersosialisasi. Cerita inspiratif Benben adalah contoh bagaimana keseimbangan semua hal tersebut membuat Benben menemui titik baliknya.