Filosofi Kopi dan Skena Kopi di Indonesia

Siapa yang tidak tahu Filosofi Kopi? Sejak kemunculan filmnya di tahun 2017, Filosofi Kopi berhasil menaikkan stigma kopi di Indonesia terutama bagi anak muda. Filosofi Kopi awalnya merupakan novel karya Dewi Lestari yang kemudian diadaptasi dalam bentuk film oleh Angga Dwimas Sasongko, dengan bintang Chico Jericho dan Rio Dewanto. Selang tidak terlalu lama, Kedai Filosofi Kopi hadir di bilangan Melawai, Jakarta hasil prakarsa Angga Sasongko bersama produsernya, Anggia Kharisma dan Handoko Hendroyono, serta Chico Jericho dan Rio Dewanto.

Kedai Filosofi Kopi

 Karim Raslan (kiri) dan Angga Sasongko sedang bersantai menikmati kopi di kedai Filosofi Kopi, Melawai Jakarta, Juli 2017.

Kedai Filosofi Kopi Melawai berada di area Little Tokyo. Masih di dalam satu pekarangan, claypot popo dan daitokyo sakaba bisa menjadi pilihan untuk santap siang sebelum ke kedai. Filosofi Kopi mengusung tema industrial pada bangunannya, dimana tidak banyak lampu modern ataupun papan nama yang menjadi mencolok. Sebagai salah satu adaptasi nyata dari filmnya, Filosofi Kopi juga sudah memberi peringatan kepada para pengunjung tentang kedainya yang bebas wifi. Karenanya, suasana di sini selalu ramai dengan bincangan para pengunjungnya.

Kopi yang Baik akan Selalu Menemukan Penikmatnya

Ben, Filosofi Kopi

Terdapat tiga kopi andalan di filosofi kopi, yaitu Perfecto, Lestari, dan Tiwus. Jika dari namanya, dapat dikatakan Kopi Kintamani diberi nama Lestari sebagai representatif kecintaan Dee Lestari –Penulis Filosofi Kopi– terhadap Budaya Bali. Selain itu ada Perfecto alias Ben’s Perfecto yang berasal dari Ijen dengan rasa fruity lemon. Biasanya, para barista menggunakan Ben’s Perfecto sebagai dasar kopi Long Black dan Cappuccino. Selain tiga biji kopi tersebut, jika kamu beruntung kamu dapat mencoba varian Seasonal Beans dari Filosofi Kopi.

Selain Ben’s Perfecto, ada biji kopi lainnya yang diklaim lebih nikmat dan kaya rasa, Kopi Tiwus. Semenjak banyak dibahas di novel maupun kopi, pengunjung juga mengklaim kalau Kopi Tiwus adalah kopi paling enak di Filosofi Kopi. Kopi tiwus sendiri berasal dari Pangalengan, Jawa Barat dengan proses pengolahan penggilingan basah. Akhirnya, Kopi Tiwus akan menghasilkan rasa kopi dengan sweetness dan acidity seimbang dan dark chocolate sebagai rasa after tastenya.

Dari Film Filosofi Kopi, Kopi Tiwus digambarkan sebagai kopi yang sudah nikmat meski hanya diolah dengan cara Tubruk Indonesia. Katanya, kopi tiwus bisa nikmat meski pengolahannya sederhana karena faktor iklim, perawatan, dan kondisi tanahnya. Jadi, jika terjadi perubahan kondisi tanah atau alih fungsi, bisa jadi kopi tiwus yang lahir berikutnya sama enaknya dengan kopi tiwus sekarang.

Jika anda tertarik mencoba manual brew di Filosofi Kopi, Ben menawarkan banyak cara. Indonesia Tubruk, Vietnam Drip, Syphoon, V60, dan Aeropress.

Selain Kopi dari Filosofi Kopi

Kalau bosen atau kamu tidak kuat minum kopi, ada juga menu lain di seluruh cabang Filosofi Kopi. Tidak jauh berbeda dari coffeeshop lainnya, untuk minumannya Filosofi Kopi juga menyediakan Red Velvet Latte, Green Tea Latte, Chocolate, dan Teh. Sedangkan untuk cemilannya, ada keripik kentang, french fries, risoles, lumpia, atau aneka pilihan cemilan manis. Pilihan manis yang bisa kamu pilih ada yang rasa nusantara seperti donat kentang atau rasa barat seperti churros dan waffle.

Setelah pertama kali berdiri tahun 2015 di Melawai, Filosofi Kopi melebarkan sayapnya untuk menyebarkan kopi nusantara ke beberapa kota. Kini, filosofi kopi terbagi jadi dua tipe; kedai dan filosofi kopi ride, kedai kopi dengan konsep grab ‘n go. Kedai sendiri sudah ada di Jogja, Semarang, Makassar dan Medan, menyusul kedai yang di Jakarta. Untuk dengan konsep ride, bisa ditemukan di Cilandak, Jakarta dan Kota Medan.

Selain kedai, tersedia juga Filosofi Kopi Coffee Catering. Bisa menjadi pelengkap acara formal, gathering, pernikahan, dan lainnya juga lho. Jika ingin info lebih lanjut, kamu bisa langsung mengunjungi websitenya.

Filosofi Kopi dan Skena Kopi Indonesia

Sebelum Filosofi Kopi hadir di tengah masyarakat Indonesia, kultur ngopi sudah hadir di Indonesia terutama kopi tubruk. Hal itu terbukti dari sudah maraknya festival kopi seperti di Banda Aceh, Banyuwangi, dan Jawa Timur. Selain itu, ada Es Kopi Tak Kie di Jakarta dan Warung Kopi Purnama di Bandung yang sudah hadir ada sejak tahun 1930-an. Hal berbeda dari Filosofi Kopi adalah bagaimana mereka mengkorelasikan antara kopi, destinasi, dan wisata sehingga kedai kopi tidak melulus soal ngopi.

Meskipun kultur kopi sudah lama hadir di Indonesia, namun kehadiran Filosofi Kopi meningkatkan gairah di anak muda. Sejak berdirinya Filosofi Kopi, banyak anak muda yang tertarik untuk belajar mengenai kopi. Bagaimana tidak, Ben & Jody berhasil menarik perhatian penonton tentang bagaimana menikmati kopi.

Dari novel hingga film, Dewi Lestari dan Angga Sasongko menggambarkan Ben yang sangat teliti dan ulet dalam mengolah kopi Indonesia. Dari memilih biji kopi terbaik sampai mencoba ragam metode untuk mencapai rasa yang maksimal. Bagi mereka yang awam dan baru terjun ke dunia kopi, pasti mencoba merasakan kopi lebih dalam menjadi lebih menarik.

Mendekatkan Kopi Indonesia

Dekatnya Filosofi Kopi dengan masyarakat tidak semata-mata karena Kedai Kopi yang hadir di banyak Wilayah Indonesia. Kolaborasi, Bisnis, serta Mimpi lainnya menjadi pendukung Filosofi Kopi mendekatkan diri dengan masyarakat. Hal ini tergambar dari bagaimana selain kedai, ikut tumbuh bisnis apparel dan berkolaborasi dengan artis Indonesia. Sehingga dengan merebaknya tag Filosofi Kopi, hadir keinginan masyarakat untuk mengenal Filosofi Kopi dan Kopi Indonesia lebih jauh.

Saat akan membuka kedai baru, Rio Dewanto & Chico Jericho juga kerap kolaborasi dengan seniman daerah setempat untuk meningkatkan hype dari hadirnya Kedai baru. Dari mulai instalasi hingga workshop dan talkshow, Filosofi Kopi selalu berusaha melibatkan masyarakat daerah setempat untuk membangun Filosofi Kopi.

Contoh kolaborasi lain yang mendekatkan Filosofi Kopi dengan masyarakat Indonesia adalah tagar #FilosofiKolaborasi. Tagar ini sebagai gerakan Filosofi Kopi mengajak kerja sama petani kopi lain untuk membawa kopinya ke kedai Filosofi Kopi. Ketiga biji kopi yang menjadi teman Tiwus, Perfecto, dan Lestari tersebut adalah Flores Turajaji, Gayo Kenawat Manis Madu, dan Sunda Aromanis. Kolaborasi-kolaborasi seperti inilah yang membawa kopi Indonesia yang jauh semakin dekat, yang tidak tahu menjadi tahu.

Sumber: instagram.com/filosofikopi

Tidak hanya pendekatan dengan masyarakat, Filosofi Kopi juga melakukan pendekatan budaya. Contohnya adalah bagaimana bagaimana kedai Filosofi Kopi yang arsitekturnya mengikuti lingkungan di sekitar kedai itu berdiri. Hal ini terlihat nyata di Kedai Filosofi Kopi Yogyakarta yang tetap dalam bentuk rumah joglo beserta area lesehan sebagaimana restoran Yogya lainnya.

Hal ini menjadi jalan bagi Filosofi Kopi untuk membangun ‘brand’ dan citra kopi Indonesia. Sejak awal berdiri dari sebuah mimpi, menjawab ekspektasi dari film, ekuitas, hingga nilai yang ada hingga sekarang, Filosofi Kopi berhasil menjaga ekspektasi konsumennya. Tidak hanya membawa banyak kopi Indonesia ke masyarakat, Filosofi Kopi juga tidak jarang membuat workshop untuk menjawab keingintahuan pecinta kopi Indonesia.