Bisnis Kopi di tengah Pandemi Covid-19

Bisnis kopi di Indonesia sudah menjamur sejak sebelum hadirnya pandemi covid-19, satu tahun lalu. Bisnis kedai kopi hilir yang berbentuk B2C (Business to Customer) maupun B2B (Business to Business) seperti roastery sudah tidak asing di Indonesia. Para petani kopi maupun pengrajin kopi yang merasakan perubahan di industri ini merasakan perubahannya. Perubahan itu terjadi dalam bentuk dan pola perilakunya.

Bagi para pelaku bisnis hulu B2B (Business to Business) seperti pemasok kopi sempat mengalami penurunan di awal pandemi. Hal ini karena kondisi yang mengharuskan beberapa coffee shop tutup sehingga mengalami penurunan pemesanan biji kopi. Namun berbeda dengan penurunan penjualan kopi di kedai yang mencapai 50%, penurunan penjualan di bisnis B2B ini hanya di kisaran 20-25%.

Menurut research, konsumsi kopi di luar rumah seperti di coffee shop mengalami penurunan karena kebijakan lockdown di beberapa negara. Di sisi lain, permintaan kopi di pusat ritel ataupun toko grosiran lebih tinggi karena efek panic buying. Para pecinta kopi banyak yang akhirnya memilih untuk membeli biji kopi dan mengolahnya sendiri di rumah.

Namun ada kondisi lain di mana efisiensi beberapa perusahaan yang menyebabkan pendapatan rumah tangga menurun. Karena itu, beberapa pihakpun memiliki perilaku konsumsi kopi yang berubah. Mereka yang tadinya memilih kopi dari coffee shop atau mengolah biji kopi, tidak jarang beralih ke kopi sachet.

Berusaha untuk mempertahankan bisnis kopi di era pandemi memerlukan strategi tertentu untuk tetap bertahan. Tidak hanya tetap bertahan, tapi menjaga agar perputaran uang tetap berlangsung dan mendatangkan banyak konsumen. Untuk menjaga hal tersebut, pelaku bisnis coffee shop harus melakukan inovasi.

Pertama, kopi kemasan literan.

Kopi kemasan liter adalah salah satu bentuk ide kreatif demi menarik dan menjaga minat konsumen. Kopi literan ini sudah dilakukan oleh banyak pelaku bisnis coffee shop dari kedai independen, kopi kenangan, sampai starbucks. Minuman jenis ini cocok untuk mereka yang tidak bisa nongkrong di kafe namun masih ingin menikmati kopi di rumah. Harganya yang relatif lebih murah dengan 70-90 ribu rupiah untuk ukuran 1 literpun bisa disimpan hingga kurang lebih tiga hari.

Kedua, penjualan online

Penjualan online dilakukan oleh pelaku bisnis coffeeshop maupun roastery. Pelaku bisnis coffee shop memasarkan kopi literannya via online atau bahkan melakukan kolaborasi dengan produk sejalan. Produk sejalan tersebut bisa bakery sebagai pelengkap kopi atau bahkan produk apparel. Selain itu, pelaku bisnis roastery juga melakukan pemasaran via online biji kopi maupun kopi bubuknya untuk konsumsi di rumah.

Ketiga, Inovasi Bentuk Kopi

Di era pandemi covid-19 ini, para pelaku bisnis juga harus mengerti bahwa mereka yang tadinya gemar datang ke kedai tidak semata-mata untuk menikmati kopi. Ada suasana, bau kopi, serta white noise mesin kopi yang mendukung ramainya suatu coffee shop. Oleh karena itu, perlu kreatifitas untuk menjaga loyalitas para konsumennya.

Mengantisipasi hal tersebut, tidak sedikit pelaku bisnis coffee shop yang membuat inovasi terkait kopi. Inovasi tersebut seperti membuat hand sanitizer berbau kopi, pengharum mobil, hingga pengharum ruangan. Bahkan di beberapa coffee shop juga hadir literan untuk produk susu sebagai pendamping literan kopi.

Keempat, CHSE

CHSE adalah singkatan dari Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability. Sertifikasi untuk CHSE sendiri diberikan oleh kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif (Kemenparekraf). Dengan melakukan campaign terkait CHSE di masa pandemi covid-19, maka suatu merk bisa lebih bersaing di pasaran.

Mengapa CHSE ini menjadi penting? Hal ini karena dengan tersertifikasi CHSE, suatu usaha sudah mematuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan dengan baik. Dengan pengakuan kementerian terhadap produk CHSE, maka kepercayaan konsumen bisa meningkat. Memiliki kepercayaan konsumen yang meningkat itulah yang menjadi keterikatan tersendiri antara konsumen dengan pelaku bisnis.

Akhirnya, selain menjaga kelangsungan bisnis kopi hilir, pelaku industri kopi juga harus menjaga alur supply chain yang resmi sehingga kesejahteraan petani kopi juga terjaga. Selain dorongan dari pelaku bisnis hilir, kementerian desa juga akan berusaha membantu petani di industri hulu kopi. Bantuan ini akan berupa pengembangan bisnis model dengan memanfaatkan dana desa.